Hadiri Webinar Bersama Pakar Internasional, Wagub Ariza Berbagi Pengalaman Tangani Vaksinasi Lansia di Jakarta

Minggu, 4 April 2021 16:08 WIB

Share
Wakil Gubernur DKI, Ahmad Riza Patria, saat webinar internasional. (poskota.co.id/ist)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Pemprov DKI dan Indonesia memiliki pengalaman dalam mempersiapkan pengendalian virus, jauh sebelum adanya temuan Covid-19.

Berbagai pengalaman, strategi dan penelitian-penelitian dikembangkan ketika Virus H5N1/Flu Burung hadir di Indonesia. Dengan pengalaman tersebut, DKI pun dinilai memiliki 'pengalaman' saat pandemi covid terjadi.

"Alhamdulillah, DKI sebagai Ibu Kota secara cepat menekan tombol Activation Darurat Pandemi dengan strategi 3T (Testing, Tracing, Treatment), melalui berbagai program, termasuk program persiapan dan pelaksanaan vaksinasi," ucap Wagub DKI, Ahmad Riza Patria, saat webinar 'Vaksinasi, Sabtu (3/4/2021).

Webinar dihadiri Asosiasi Intelektual dan Profesional Indonesia menggandeng I&P Indonesia di Belanda dan IASI Jerman bekerja sama dengan KBRI Den Haag.

Menurut Riza, Indonesia, tidak terkecuali Jakarta, terus berupaya mempercepat cakupan vaksinasi, terutama bagi golongan lansia. Maka, hal yang juga perlu dilakukan adalah menumbuhkan kesadaran masyarakat.

"Menurut data, per 3 April 2021, untuk kelompok lansia, vaksinasi dosis pertama telah diterima oleh 485.807 orang atau 53,3 persen, sedangkan vaksinasi dosis kedua mencakup 80.541 orang atau 8,8 persen. Adapun target vaksinasi lansia di Jakarta sebanyak 911.631 orang," ujarnya.

Ia melanjutkan, upaya Pemerintah Daerah untuk terus mengawal pelaksanaan vaksinasi di kalangan lansia belum cukup tanpa kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi. Maka, hal yang juga perlu dilakukan adalah menumbuhkan kesadaran masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan DKI, Widyastuti, menambahkan, Pemprov DKI sejak awal pandemi pada Maret 2020, bekerja meningkatkan tes PCR pada kasus-kasus terduga baru. Karena itu, sekarang jumlah tes PCR dapat melampaui target yang ditentukan WHO.

"Tren jumlah kasus sejak awal itu fluktuatif. Sekarang menunjukkan penurunan dibanding akhir tahun lalu. Sebaran kasus tertinggi pada usia produktif 19 sampai 50 tahun. Ada penurunan untuk lansia yang saat ini kasusnya relatif kecil. Sama dengan kelompok balita," ungkapnya.

Webinar juga dihadiri dan diisi oleh Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda, Mayerfas; Ketua Asosiasi Intelektual dan Profesional Indonesia, Rosalyn Siburian; Ahli Kesehatan Masyarakat Belanda, Aryanti Radyowijati; dan beberapa pakar dan tokoh. (deny)

Reporter: Gusmif
Editor: Admin Jakarta
Sumber: -
Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler