Penangkapan 3 Ustadz di Bekasi oleh Densus 88 Jadi Perbincangan Seru di Medsos, Kuasa Hukum: Itu Menyakiti Hati Umat Islam

Rabu, 17 November 2021 14:42 WIB

Share
Penangkapan 3 Ustadz di Bekasi oleh Densus 88 Jadi Perbincangan Seru di Medsos, Kuasa Hukum: Itu Menyakiti Hati Umat Islam
Ismar Syafruddin, kuasa hukum tiga ustadz terduga teroris yang ditangkap Densus 88, saat ditemui di Yayasan Al Islam, di Jalan Kampung Sawah, Pondok Melati, Bekasi. (ihsan Fahmi)

BEKASI, POSKOTA.CO.ID -- Tim Datasemen Khusus (Densus) 88 anti teror Polri menangkap tiga orang ustadz muda di wilayah Bekasi, pada Selasa (16/11/2021) pagi. 

Ketiganya adalah Ustadz Farid Okbah, yang juga merupakan Ketua Umum Partai Dakwah Rakyat Indonesia (PDRI). Kemudian dua anggota Komisi Fatwa MUI Pusat,  Dr. Ahmad Zain An-Najah dan Dr. Anung Hamad. 

Penangkapan tiga ustadz ini menimbulkan kehebohan di masyarakat. Di grup-grup WhatsApp dan Facebook beredar pertanyaan, mengapa tiga ustadz muda yang terkenal itu ditangkap? Benarkah ketiganya terlibat terorisme?

Sebab, selama ini ketiganya dikenal sebagai ustadz yang santun. Dalam berceramah, mereka juga biasa-biasa saja. Sebagaimana banyak ustadz di tanah air, mereka menginginkan Islam dapat mewarnai tanah air dengan cara konstitusional.

 

"Ceramah-ceramah dan buku-buku yang ditulis ketiga dai itu sepengetahuan saya, tidak ada yang menyuruh aksi terorisme. Mereka memang menginginkan terbentuknya masyarakat yang Islami di tanah air. Tapi bukan negara Islam. Mereka bisa digolongkan da'i yang menyerukan militanisme bukan terorisme," kata seorang warganet.

"Dalam kasus ini, Kepolisian RI atau Densus 88 perlu berbenah diri. Jangan samakan dai-dai yang bergerak dengan damai ini, dengan para aktor teroris. Jangan samakan mereka yang menyeru pada kehidupan Islam ini dengan para aktor yang menghalalkan perjuangan dengan kekerasan atau pengeboman," timpal warganet lainnya.

"Mestinya dai-dai itu diperlakukan sebagaimana para tertuduh dalam KUHP. Dipanggil baik-baik dan diminta keterangannya. Bukan ditangkap dengan menggunakan UU Anti Terorisme yang bisa ditangkap sewaktu-waktu, tanpa penjelasan terlebih dahulu," komentar lainnya.

"Pak polisi, ini zaman internet. Zaman keterbukaan. Bukan zaman ketertutupan atau zaman kegelapan. Masyarakat, pingin tahu dengan cepat ketika polisi menangkap seseorang disertakan dengan penjelasan. Bukan asal main tangkap dan geledah, tanpa keterangan. Bagaimana citra polisi akan baik kalau caranya seperti ini?".

 

Halaman
1 2
Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar
Berita Terpopuler