Kisah Syekh Nawawi Al-Bantani Keluarkan Karomah Ketika Terjadi Perdebatan Arah Kiblat, Kabah Terlihat Jelas dari Masjid Jami An Nawier Pekojan 

Kamis, 14 April 2022 17:57 WIB

Share
Kisah Syekh Nawawi Al-Bantani Keluarkan Karomah Ketika Terjadi Perdebatan Arah Kiblat, Kabah Terlihat Jelas dari Masjid Jami An Nawier Pekojan 
Masjid Jami An Nawier yang berlokasi di Pekojan, Tambora, Jakarta Barat.(Foto: Pandi)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Di pinggir kali Angke, tepatnya di Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, terdapat sebuah masjid megah peninggalan zaman kolonial Belanda yang bernama Masjid Jami An Nawier.

Gaya klasik Timur Tengah sangat terasa saat kita memasuki area masjid tersebut. Tiang penyangga yang menjulang tinggi serta ornamen jendela lebar, terlihat saat hendak masuk memasuki masjid.

Masjid yang berdiri sejak tahun 1760 Masehi ini, memiliki lantai yang terbuat dari marmer, khas bangunan Eropa pada zamannya. Sementara langit-langit masjid terbuat dari kayu jati dengan kualitas apik.

Ketua Pengurus Masjid An Nawier, Dikky Abu Bakar Bassandid mengatakan, saat berdiri masjid An Nawier tidak semegah saat ini. Saat itu luas masjid hanya sekitar 500 meter persegi.

Namun pada sekitar tahun 1850 atau abad 18 memasuki abad 19, masjid itu di renovasi rotal. Luas wilayah masjid menjadi 2.000 meter persegi, dengan luas bangunan masjid sebesar 1.500 meter persegi.

“Masjid ini dibangun pada tahun 1760 Masehi, dalam kondisi yang tidak sebesar dan seluas ini. Namun ada perluasan sekitar abad 18 memasuki abad 19, kemudian ada perluasan dari masjid ini, dengan bangunan yang hingga saat ini masih bisa kita saksikan,” ujar Dikky saat ditemui.

Hingga sampai saat ini, tidak ada satu pun bangunan masjid yang diubah. Hanya ada sedikit polesan-polesan kecil yang dilakukan oleh pengurus agar masjid terlihat cantik dan rapi.

“Bangunan dari abad 18 itu tidak ada satu pun yang diubah. Namun hanya diperindah, dipercantik yaitu dengan direstorasi agar telihat tampilannya lebih baik daripada sebelumnya,” ungkapnya.

Bahkan, Dikky mengatakan, sejak dulu masjid ini memiliki empat buah lampu minyak yang tergantung di langit-langit masjid. Lampu itu hingga kini masih dapat terlihat jelas, namun lampu tersebut sudah di modifikasi menjadi lampu listrik.

“Ada empat buah lampu minyak di dalam masjid ini yang masih terjaga, dan itu kita modif sekarang jadi lampu listrik. Yang memang jaman sekarang ada dibuat lampu seperti itu dibuat untuk lampu listrik, tapi yang di sini sebetulnya lampu minyak tapi kita modifikasi jadi lampu listrik,” jelasnya.

Halaman
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar