Bangun Romantisme Masa Lalu Pernah Usung Gus Dur jadi Presiden, PKS dan PKB Siap Berkoalisi Hadang KIB

Rabu, 8 Juni 2022 16:57 WIB

Share
Bangun Romantisme Masa Lalu Pernah Usung Gus Dur jadi Presiden, PKS dan PKB Siap Berkoalisi Hadang KIB
Wakil Ketua Umum PKB Jazilul Fawaid mewacanakan koalisi PKBdan PKS demi mengulang kejayaan masa lalu.(Foto: Rizal Siregar)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Selepas terbentuk Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang digagas Partai Golkar, PPP, dan PAN, kini muncul wacana koalisi yang dibangun Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).   

Hal ini menunjukkan adanya dinamika politik menuju Pemilu 2024 semakin hangat belakangan ini.
 
Wacana koalisi dua partai politik (parpol) yang memiliki basis pemilih Islam berkembang setelah sebelumnya dalam Milad ke-20 PKS di Istora Senayan, Jakarta, 29 Mei lalu, PKS memberikan panggung kepada Ketua Umum PKB Abdul Muhaimin Iskandar (Gus Muhaimin) yang oleh PKB sudah dideklarasikan sebagai calon presiden (Capres) 2024. 
 
Terkait kemungkinan koalisi PKB dengan PKS pada Pemilu 2024 mendatang, Wakil Ketua Umum PKB Jazilul Fawaid mengatakan bahwa koalisi digagas atas tujuan untuk menang. 

"Jadi apapun koalisi itu, arahnya meraih kemenangan Capres-Cawapres. Apakah misalkan PKB dengan PKS mungkin berkoalisi? Sangat mungkin, jika koalisi itu menjanjikan harapan menang dan menjanjikan harapan ke arah yang lebih baik," kata Gus Jazil di Jakarta, Rabu (8/6/2022).
 
Gus Jazil mengatakan, PKB dengan PKS memiliki romantisme masa lalu ketika bergabung dalam koalisi Poros Tengah bersama sejumlah parpol berbasis Islam lainnya, seperti PAN, PBB, dan PPP yang berhasil menjadikan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) presiden pada 1999. 

Saat itu, PKS masih bernama Partai Keadilan (PK). Selanjutnya, pada Pemilu 2004, PKB kembali berada dalam satu koalisi dengan PKS dan sejumlah parpol lain dan berhasil mendudukkan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Jusuf Kalla (JK) sebagai presiden dan wakil presiden. 

"Artinya koalisi PKB dengan PKS ini bukan hal baru. Bahkan pernah mendudukkan orang sebagai presiden. Apakah 2024 bisa membangun koalisi dan menjadikan Capres koalisi itu menang, sangat mungkin," tuturnya. 

 
Gus Jazil pun menyampaikan apresiasi kepada PKS yang memberikan panggung kepada Gus Muhaimin dalam Milad PKS untuk menyampaikan gagasannya di forum yang berkelas. 

”Itu tandanya PKS dengan PKB sedang membangun kemesraan, mudah-mudahan publik melihat itu. Dan kemesraan ini sesungguhnya juga terjadi di masa-masa lalu. Kami berharap kemesraan ini terulang lagi dimasa depan,” katanya. 
 
Wakil Ketua MPR RI ini mengatakan bahwa pemilu adalah terminal perubahan. Masyarakat menginginkan hal baru. "Kalau terjadi koalisi PKB dan PKS, ini sesuatu yang baru maka akan menjadi magnet bagi partai lain untuk ikut. Minimal partai-partai di luar partai-partai gajah. Ini bisa menjadi ‘koalisi semut merah’, kecil tapi berasa," tuturnya. 
 
Gus Jazil menegaskan bahwa koalisi harus didahului dengan komunikasi dan kesamaan paham. Hal penting yang ditekankan Gus Jazil, Pemilu 2024 tidak ada calon petahana dan menjadi momentum baru bagi partai-partai menengah seperti PKB dan PKS untuk menunjukkan taringnya. 

"Apakah mampu mendudukan pasangan yang diharapkan masyarakat yang nantikan akan memberikan jalan baru bagi Indonesia dimana hari ini mengalami kesulitan. Kami yakin, seandainya kami bergabung pasti ada partai-partai lain yang bergabung," katanya.
 
Menurutnya, PKB dengan PKS ada banyak kesamaan. Keduanya merupakan parpol yang lahir di era Reformasi dan sama-sama memiliki basis suara yang kuat di basis suara kelompok Islam. 

"Menurut saya itu menarik. Mungkinkah bisa menang? Sangat mungkin. Dulu pernah menang. Apalagi hari ini saya dengar sendiri di acara Milad, PKS mengusung politik yang rahmatan lil alamin. Itu menurut saya modal. Kalau dalam bahasa agama itu kalimatun sawa, kalimat yang mempertemukan," urainya. 
 
Gus Jazil mengatakan bahwa selama ini publik sering melihat ada politik identitas dan polarisasi di tengah masyarakat. 

"Serahkan ke PKB sama PKS, selesai itu politik identitas," tuturnya. 
(Rizal Siregar)
 

Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar