Di Wonogiri, Polisi Tangkap 7 Pendiri dan Pengajar Sekolah Khilafatul Muslimin

Jumat, 17 Juni 2022 13:03 WIB

Share
Di Wonogiri, Polisi Tangkap 7 Pendiri dan Pengajar Sekolah Khilafatul Muslimin
Dok. beredar video konvoi pengendara motor membawa poster dan bendera Khilafatul Muslimin saat melintas di wilayah Jakarta Timur, Minggu (29/5/2022).(ist)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Kepolisian Resort (Polres) Wonogiri, berhasil menangkap sebanyak tujuh orang pendiri sekaligus pengajar sekolah yang diselenggarakan oleh organisasi masyarakat (ormas) Khilafatul Muslimin di Desa Wonokerto, Wonogiri, Jawa Tengah pada Selasa (7/6/2022) lalu.

Kapolres Wonogiri, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP), Dydit Dwi Susanto mengatakan, giat penangkapan ini dilakukan atas dasar sekolah yang didirikan oleh ormas Khilafatul Muslimin, berdiri dan diselenggarakan tanpa izin dari pemerintah.


"Sejak tahun 2021, Khilafatul Muslimin ini mendirikan bangunan dan menggunakan bangunan tersebut untuk kegiatan pendidikan Madrasah Ibtifaiyah Usman bin Affan, di mana pendirian madrasah tersebut tanpa dilengkapi izin dari pemerintah," kata Dydit, Jumat (17/6/2022).

Perwira menengah Polri itu melanjutkan, dari giat ini, pihaknya menangkap tujuh orang yang terdiri dari Kepala Sekolah (Murabbi), pengasuh, dan guru di sekolah tersebut.

"Pelaku yang kita amankan itu ada tujuh, yakni YH, SG, IZ, SB, MI, RW, dan AR di mana terduga pelaku merupakan warga dari luar Wonogiri," ujar dia.

Dydit menuturkan, sebelum dilakukan penangkapan dan penutupan sekolah milik Khilafatul Musliminin ini, bangunan sekolah tersebut awalnya berfungsi sebagai tempat mengaji para warga yang ada di sekitar Masjid Al-Muttaqin.

"Jadi salah satu tersangka ini pada tahun 2014, mengadakan pengajian yang diikuti warga sekitar di Masjid Al Muttaqin. Kala itu kegiatan tersebut diselenggarakan dengan seizin Kepala Dusun (Kadus) inisial PY, yang juga selaku pelapor," tuturnya.


"Namun, seiring berjalannya waktu, pengajian yang diikuti warga tersebut mulai dirasa aneh, warga menganggap isi pengajian yang dibawa tidak sesuai dengan ajaran Islam. Sehingga membuat warga resah dan menentang pengajian tersebut," sambung Dydit.

Adapun, ungkap dia, dari penangkapan ini, pihaknya juga telah menetapkan sebanyak tujuh orang tersebut sebagai tersangka, serta menyita sejumlah barang bukti mulai dari satu buku silabus kurikulum, lima buku materi kegiatan belajar, dan surat pernyataan kesanggupan orang tua santri tentang mengikuti kegiatan belajar di PPUI Madrasah Ibtidaiyah.

"Penyidik mempersangkakan mereka melanggar Pasal 62 Ayat (1) Juncto Pasal 77 Undang-Undang (UU) Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Juncto Pasal 65 Ayat (1) UU RI Nomor 11 tahun 2022 tentang Cipta Kerja Juncto Pasal 55 Ayat (1) KUHAP," imbuhnya.

Halaman
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar