Dulu NII Dapatkan Dana dari Menyamar Pembantu di Rumah Orang Kaya Lalu Hartanya Dirampok, Sekarang Via Kotak Amal

Senin, 20 Juni 2022 19:13 WIB

Share
Dulu NII Dapatkan Dana dari Menyamar Pembantu di Rumah Orang Kaya Lalu Hartanya Dirampok, Sekarang Via Kotak Amal
Eks anggota NII, Ken Setiawan membeberkan cara organisasinya dahuku mendulang dana untuk menjalankan operasional kegiatan.(Foto: Andi Adam)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Eks anggota Negara Islam Indonesia (NII), Ken Setiawan membeberkan tata cara organisasinya dulu untuk dapat mendulang dana guna menjalankan operasional organisasi.

Ken yang saat ini menjadi pendiri dari NII Crisis Center mengatakan, untuk dapat menjalankan operasional organisasi, para anggota NII mendulang sumber dana dengan cara mengumpulkan donasi, mengambil atau merampok harta orang lain.

"Di kelompok NII memang melakukan penggalangan dana. Kita dulu menggunakan fa'i atau mengambil harta orang lain," kata Ken dalam jumpa pers di bilangan Gambir, Jakarta Pusat, Senin (20/6/2022).

Ken menjelaskan, praktik mengambil atau merampok harta orang lain itu diperbolehkan dalam kelompok yang dinaunginya. Sebab menurutnya, hal tersebut sama saja dengan kondisi saat perang yang membutuhkan banyak bantuan dana.

"Kita dulu menggunakan fa'i atau mengambil harta orang lain. Itu diperbolehkan. Karena hari ini adalah kondisi perang," jelas dia.

Adapun modus operandi fa'i yang dilakukan kelompoknya pada saat itu ialah dengan cara berkamuflase dengan berpura-pura menjadi seorang asisten rumah tangga (ART) di sebuah rumah mewah di Jakarta.

"Jadi anggota terlebih dahulu membuat semacam Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan ijazah palsu untuk melamar pekerjaan jadi ART. Kemudian, apabila sang majikan beserta keluarganya itu tidak ada di rumah, maka anggota pun akan beraksi mengambil harta majikannya," tutur dia.

"Rumah kosong, kita datang bawa mobil dan ambil semua hartanya. Itu boleh diambil karena fai," sambunh Ken.

Namun, seiring berjalannya waktu, modus operandi seperti itu pun mulai ditinggalkan oleh anggota NII lantara potensi risiko yang terlalu besar. Sehingga, ungkap dia, anggota mulai menggunakan cara lain yang lebih halus untuk mendulang dana tersebut, yakni dengan cara membuat yayasan yang membukan donasi untul pembangunan masjid dan bencana alam.

"Modus itu dianggap berisiko, lalu mereka membuat yayasan yatim piatu, dhuafa, donasi cinta masjid, hingga donasi jika terjadi bencana. Mereka aktif sekali menggunakan kegiatan sosial untuk mencari dana," papar dia.

Halaman
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar