Miris, 34,5 % Anak Laki-laki dan 25 % Anak Perempuan Indonesia Usai Nonton Film Porno Langsung Mempraktikannya
Minggu, 26 Juni 2022 18:18 WIB
Share
Anggota Komisi I DPR RI H. Moh. Arwani Thomafi dalam webinar bertajuk "Seminar Merajut Nusantara, Keamanan Anak di Platform Digital" pada Minggu (26/6/2022).(Tangkapan layar webinar)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Media internet atau media sosial bak pisau bermata dua. Kedua sisinya tajam. Tajam dalam memberi informasi dan pengetahuan dengan cepat, namun di sisi lain ketajamannya bisa merusak generasi bangsa di masa depan.

Jika tidak bisa menggunakan teknologi digital  secara baik dan tepat, ancamannya  bakal merusak generasi mendatang. Banyak tantangan yang dihadapi para orang tua dalam mengawasi anak-anak mereka agar tidak rusak akibat pisau tajam negatif tersebut.

Dalam webinar bertajuk "Seminar Merajut Nusantara, Keamanan Anak di Platform Digital" pada Minggu (26/6/2022), Anggota Komisi I DPR RI H. Moh. Arwani Thomafi mengatakan, diperkirakan satu dari tiga anak di seluruh dunia saat ini adalah pengguna internet. Dan satu dari tiga pengguna internet adalah anak di bawah usia 18 tahun.

"Sama seperti dalam kehidupan luring mereka, anak-anak dapat terkena beberapa risiko daring, yang mungkin dapat membahayakan mereka. Misalnya, mereka dihadapkan dengan ujaran kebencian atau menemukan konten kekerasan atau seksual," ujarnya.

Survei yang dilakukan UNICEF, terang Arwani, menunjukkan bahwa anak-anak yang terlibat dalam lebih banyak aktivitas daring cenderung mengalami lebih banyak pula risiko daring. 

"Kondisi ini menimbulkan dilemma. Di satu sisi, anak-anak memerlukan beraktivitas daring, namun di sisi lain, aktivitas ini membuat mereka lebih rentan terhadap konten, kontak, dan perilaku yang berisiko dan berpotensi membahayakan mereka," paparnya.

Survei yang dilakukan UNICEF menyebutkan, 90 persen anak-anak yang menggunakan internet mengaksesnya dari rumah. Ini berarti bahwa para orangtua sesungguhnya berada dalam posisi yang kuat untuk membimbing anak-anak mereka agar mampu memanfaatkan Internet secara lebih tepat guna, aman, dan sehat.

Karena itu, pesan Arwani, idealnya, para orangtua harus mampu membimbing anak dalam empat aspek berikut ini.

Pertama, kemampuan literasi digital tetap masih melibatkan aktivitas membaca dan menulis. Hanya saja, kini ikut melibatkan pula bagaimana kita menggunakan teknologi yang selalu berubah. Termasuk dalam hal ini mencakup seperti mengevaluasi validitas sebuah situs web, membuat konten media online dan bahkan berbagi konten. 

Kedua, kecerdasan emosional digital. Secara sederhana, kecerdasan emosional digital adalah kemampuan untuk merasakan respons emosional melalui platform digital dan menggunakan informasi untuk mempengaruhi cara kita berperilaku, berpikir, atau bahkan membuat keputusan. 

Halaman
1 2 3 4