Hadapi Kerawanan dan Kelaparan Akut Global, Jokowi Serukan Negara G7 dan G20 Komoditas Pangan dan Pupuk dari Rusia Tidak Terkena Sanksi

Selasa, 28 Juni 2022 17:59 WIB

Share
Presiden Joko Widodo saat bertemu PM Inggris Boris Johnson.(Biro Pers)
Presiden Joko Widodo saat bertemu PM Inggris Boris Johnson.(Biro Pers)

JAKARTA,POSKOTA.CO.ID- Presiden Joko Widodo  menyerukan agar negara G7 dan G20 untuk bersama-sama mengatasi krisis pangan yang saat ini mengancam warga di negara-negara berkembang jatuh ke jurang kelaparan dan kemiskinan ekstrim. 
       
Hal tersebut Presiden Jokowi tegaskan saat menyampaikan pandangannya pada KTT G7 sesi II dengan topik ketahanan pangan dan kesetaraan gender di Elmau, Jerman, Senin  (27/6/ 2022) waktu setempat. 
      
"323 juta orang di tahun 2022 ini, menurut World Food Programme, terancam menghadapi kerawanan pangan akut. G7 dan G20 memiliki tanggung jawab besar untuk atasi krisis pangan ini. Mari kita tunaikan tanggung jawab kita, sekarang, dan mulai saat ini,” tegas Presiden Jokowi.
      
Menurut Presiden, pangan adalah permasalahan Hak Asasi Manusia yang paling dasar. Para perempuan dari keluarga miskin dipastikan menjadi yang paling menderita menghadapi kekurangan pangan bagi anak dan keluarganya.

      
"Kita harus segera bertindak cepat mencari solusi konkret. Produksi pangan harus ditingkatkan. Rantai pasok pangan dan pupuk global, harus kembali normal,” ucap Presiden.
      
Dalam pidatonya, Presiden Jokowi menegaskan pentingnya dukungan negara G7 untuk mengreintegrasi ekspor gandum Ukraina dan ekspor komoditas pangan dan pupuk Rusia dalam rantai pasok global.
        
Menurut Presiden, terdapat dua cara untuk merealisasikan hal tersebut. Yang pertama adalah fasilitasi ekspor gandum Ukraina dapat segera berjalan. Kedua menurut Presiden adalah komunikasi secara proaktif kepada publik dunia bahwa komoditas pangan dan pupuk dari Rusia tidak terkena sanksi.
       
"Komunikasi intensif ini perlu sekali dilakukan sehingga tidak terjadi keraguan yang berkepanjangan di publik internasional. Komunikasi intensif ini juga perlu dipertebal dengan komunikasi ke pihak-pihak terkait seperti Bank, asuransi, perkapalan dan lainnya,” jelas Presiden.

      
Presiden Jokowi menaruh perhatian besar pada dampak perang terhadap rantai pasok pangan dan pupuk. 

“Khusus untuk pupuk, jika kita gagal menanganinya, maka krisis beras yang menyangkut 2 miliar manusia terutama di negara berkembang dapat terjadi,” ungkap Presiden.
      
Di sela-sela menghadiri G7, Presiden juga mengadakan pertemuan bilateral dengan sejumlah pimpinan negara, seperti Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau,  PM Inggris Boris Johnson, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Olaf Scholz, PM India Narendra Modi.
      
Turut mendampingi Presiden Jokowi dalam pertemuan bilateral dengan Presiden Macron yaitu Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Duta Besar RI untuk Jerman Arif Havas Oegroseno. 
(Agus Johara)
 

 

Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar