BMKG: Gempa di Cianjur Terjadi Setiap 20 Tahunan, Waspadai Longsor dan Banjir Bandang

Rabu, 23 November 2022 14:07 WIB

Share
Gempa bumi dengan kekuatan Magnitudo 5,6 mengguncang Cianjur, Jawa Barat, Senin (21/11/2022), pukul 13.21 WIB mengakibatkan puluhan orang meninggal dunia. (Foto: Tangkapan Layar Twitter)
Gempa bumi dengan kekuatan Magnitudo 5,6 mengguncang Cianjur, Jawa Barat, Senin (21/11/2022), pukul 13.21 WIB mengakibatkan puluhan orang meninggal dunia. (Foto: Tangkapan Layar Twitter)

JAKARTA,POSKOTA.CO.ID - Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati mengatakan, gempa di Cianjur, Jawa Barat, merupakan berulang setiap 20 tahunan.

"Gempa di Cianjur akan berulang setiap 20 tahunan dan kemungkinan dapat terjadi kembali," terang Dwikorita dalam keterangannya, Rabu (23/11/2022).

Dwikorita memastikan intensitas gempa susulan di Kabupaten Cianjur akan semakin melandai dalam waktu empat hari ke depan sejak 22 November yang lalu.


"Hingga Tanggal 23 November 2022 Pukul 08.00 WIB, jumlah gempa susulan yang tercatat BMKG ada sebanyak 162 gempa dengan Magnitudo terbesar 4,2 dan terkecil pada Magnitudo 1,2," terang Dwikorita.
 
Seperti diketahui, gempa bermagnitudo 5,6 mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin (21/11/2022) pukul 13.21 WIB. Gempa itu dirasakan di sejumlah provinsi di Jawa Barat, Banten, juga DKI Jakarta. 
 
"Gempa-gempa susulan itu sebagian besar tidak dirasakan, dan yang bisa mencatat adalah alat, dan ada beberapa yang dapat dirasakan. InsyaAllah, dalam kurun waku empat hari ke depan, gempa-gempa susulan tersebut sudah reda dan stabil,” ungkap Dwikorita.


Dwikorita mengatakan, memasuki puncak musim penghujan, BMKG mengimbau kepada pemerintah daerah setempat dan masyarakat untuk mewaspadai kemungkinan terjadinya bencana alam ikutan seperti longsor dan banjir bandang yang membawa material-material reruntuhan lereng akibat gempa M 5,6. 

"Saat ini curah hujan sedang meningkat menuju puncaknya di bulan Desember hingga Januari nanti, jadi harus diwaspadai kemungkinan terjadinya bencana ikutan usai gempa kemarin. Material lereng yang runtuh seperti tanah, batu, pohon, kerikil, dan lainnya harus dibersihkan agar tidak terbawa air dan menjadi banjir bandang. Hal ini pernah terjadi saat gempa Palu dan Pasaman Barat,” katanya.

Dwikorita juga mengimbau saat proses rehabilitasi dan rekonstruksi bangunan semestinya menggunakan struktur bangunan tahan gempa. 

Menurutnya, banyaknya korban meninggal dan signifikannya kerusakan yang terjadi pada saat gempa tektonik bermagnitudo 5,6 selain akibat gempa dangkal juga akibat struktur bangunan di wilayah terdampak tidak memenuhi standar tahan gempa. 

"Mayoritas bangunan yang terdampak karena dibangun tanpa mengindahkan struktur aman gempa yang  menggunakan besi tulangan dengan semen standar. Akibatnya, bangunan tersebut tidak mampu menahan guncangan gempa,” paparnya. 


“Perlu dipahami, bahwa banyaknya korban jiwa dan luka-luka dalam gempa bumi Cianjur bukan diakibatkan guncangan gempa bumi, melainkan karena tertimpa bangunan yang tidak sesuai dengan struktur tahan gempa bumi,” tambah dia. 

Halaman
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar