Ibu dan Bayinya di Pandeglang di Penjara, Komnas LPPA Prihatin

Jumat, 25 November 2022 16:50 WIB

Share
Komnas PA Pandeglang (kiri) saat membesuk terdakwa di Rutan Pandeglang. (Foto: Ist)
Komnas PA Pandeglang (kiri) saat membesuk terdakwa di Rutan Pandeglang. (Foto: Ist)

PANDEGLANG, POSKOTA.CO.ID - Ada salah seorang perempuan yang memiliki bayi berusia 7 bulan, menjadi terdakwa dan ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Pandeglang, atas kasus dugaan mengatasnamakan salah seorang dokter. 

Mengetahui kondisi tersebut, Komnas Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak (LPPA) mengaku, prihatin dan miris atas adanya penampakan seorang perempuan dan bayinya berada di dalam rutan.

"Miris seorang ibu yang berinisial N dan anak yang berusia 7 bulan di dalam Rutan Pandeglang menjadi tahanan, sangat miris melihatnya," ujar Ketua Komnas LPPA Pandeglang, Jumat (25/11/2022). 


Menurutnya, dengan penempatan anak tersebut di dalam rutan, jelas dan tegas telah melanggar hak anak, salah satunya hak asupan gizi, terhambatnya pemberian ASI ekslusif. Bahkan saat ini si anak masih dalam treatment masa terapi akibat dari penyakit jantung bawaan sejak dilahirkan. 

"Dalam hal ini jelas ada aturan yang dilanggar pihak terkait, yakni Undang-undang tentang kesehatan pasal 128, Ayat 2,3 Jo Pasal 200 nomor 36 tahun 2009, Peraturan bersama Hak menyusui UU Nomor 13 Tahun 2013 Pasal 83, Pasal 153 Ayat 1, UU No 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak," ucapnya.


Sementara, DN suami dari terdakwa mengatakan, kecewa dengan hakim Pengadilan Negeri Pandeglang yang tegas harus memenjarakan seorang ibu yang tengah menyusui. 

Padahal kata dia, pihaknya sudah minta penangguhan penahanan, dengan alasan atas pertimbangan adanya anak berusia 7 bulan yang masih membutuhkan ASI serta mempunyai kelainan jantung. 

"Kami sudah mengajukan permohonan penangguhan penahanan, karena hakim mempunyai kebijakan kewenangan melakukan penangguhan penahanan. Dengan melihat posisinya ibu menyusui anak usia 7 bulan dan mempunyai kelainan jantung," jelasnya. 


Lanjut dia, bawa hakim harus melihat sisi kemanusiaan. Sebab ini kan bukan perkara pembunuhan dan pencurian dengan pemberatan. Lalu dokumen kasusnya juga bukan memalsukan tanda tangan orang, tapi hanya di atas namakan karena memang saat itu keadaannya dokter bersangkutan tidak ada. 

"Perkara istri saya di Pengadilan Negeri Pandeglang teregistrasi nomor 241 dengan terdakwa N," ucapnya. 

Halaman
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar