Impor Beras 500 Ribu Ton Diharapkan Cukup Hingga Akhir Tahun 

Selasa, 27 Desember 2022 12:16 WIB

Share
Diskusi yang diinisiasi oleh Forwatan membahas ''Pasolan Beras Jelang Nataru, Amankah?,'' di Jakarta, Jumat (23/12/2022). (Foto: Tangkapan Layar)
Diskusi yang diinisiasi oleh Forwatan membahas ''Pasolan Beras Jelang Nataru, Amankah?,'' di Jakarta, Jumat (23/12/2022). (Foto: Tangkapan Layar)

JAKARTA. POSKOTA.CO.ID - Keputusan pemerintah melakukan impor beras sebanyak 500 ribu ton adalah keputusan terakhir untuk memperkuat stok cadangan beras pemerintah (CBP).

Sehingga stok beras mencapai 1,2 juta ton. Stok tersebut diperkirakan cukup hingga akhir tahun untuk Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSH) hanya sekitar 500 hingga 1.000 ton per hari atau 20-30 ribu ton per bulan.

"Dengan stok 1,2 juta ton sampai Juli, maka Agustus-Desember dalam waktu lima bulan diperkirakan hanya butuh sekitar 150 ribu ton saja untuk keluar. Artinya stok akhir kita masih di atas 1 juta ton, karena pada saat panen gadu berikutnya Agustus September, kita masih bisa menyerap," ujar Kepala Divisi Perencanaan Operasional dan Pelayanan Publik Bulog, Epi Sulandri, di Jakarta, baru-baru ini.


Lanjut dia, saat Agustus 2022 harga beras melonjak tinggi di pasar serta permintaan masyarakat juga meningkat akibat dari kebijakan Bahan Bakar Minyak (BBM). Kenaikan harga beras mendorong naiknya permintaan CBP untuk KPSH hingga 214 ribu ton pada Agustus.

“Kondisi inilah yang kemudian Agustus-Desember ada pada kisaran 200 ribu ton yang mengakibatkan stok mulai tergerus," jelasnya.

Dikatakan, sejak ada kenaikan permintaan tersebut pemerintah meminta Bulog untuk membeli gabah dalam negeri. Namun, berdasarkan neraca bulanan pada periode November hingga Desember terjadi defisit antara produksi dan konsumsi. 


“Secara bulanan pada Oktober, November, Desember terjadi defisit secara bulan yang artinya kalau Bulog menyerap akan menyerap stok-stok sisa yang lama," ucapnya.

Sementara itu, Direktur Ketersediaan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Budi Wuryanto menilai, bahwa stok yang dikuasi Perum Bulog saat ini tidak dalam kondisi ideal saat momentum Natal dan Tahun Baru 2022.

“Karena itu, pemerintah melakukan top up agar CBP bisa mencapai 1,2 juta ton. Jadi impor 500 ribu ton merupakan pilihan terakhir untuk memenuhi CBP,” ujarnya.

Menurut Budi, tipisnya stok CBP yang dipegang Bulog, salah satu faktornya adalah tingginya pengeluaran beras program KPSH atau operasi pasar untuk menjaga stabilisasi harga beras yang naik cukup tinggi sejak Juli. Jika pada Januari, harga beras medium masih sekitar Rp 10.900/kg, maka pada Desember sudah mencapai Rp 11.300/kg. 

Halaman
Reporter: Muhidin
Editor: Muhidin
Sumber: -
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar