Advertisement

Diet Pegan, Antara Tren dan Risiko yang Mengikutinya, Demi Dapat Tubuh Sehat dan Berat Badan Ideal

Aksi Milenial —Jumat, 2 April 2021 17:05 WIB
Editor: Fatah
    Bagikan:  
Diet Pegan, Antara Tren dan Risiko yang Mengikutinya, Demi Dapat Tubuh Sehat dan Berat Badan Ideal
Ahli Gizi, Dr. Rita Ramayulis, DCN, M. Kes. Poskota.co.id/ardhi

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Diet menjadi salah satu cara agar seseorang mendapatkan tubuh yang sehat dan berat badan yang ideal.

Ada berbagai jenis diet yang dapat dilakukan salah satunya diet pegan.

Diet pegan digadang menjadi jenis diet yang bakal menjadi tren diet sehat 2021.

Seorang dokter sekaligus penulis buku kesehatan bernama Dr. Mark Hyman dari Cleveland Clinic yang memperkenalkan diet pegan melalui blog-nya pada 2014. 

Diet pegan adalah diet yang mengombinasikan antara diet paleo dan diet vegan.

Diet paleo merupakan diet dengan pola makan ala zaman purba, Paleolitikum yang hanya mengandalkan makanan unsur hewani seperti daging sapi, kambing, ayam, salmon, udang, dan telur.

Sedangkan diet vegan adalah diet yang menekankan pada pola makan berunsur nabati seperti sayur, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian tanpa mengonsumsi daging maupun produk turunan hewani lainnya macam susu, keju, dan telur. 

Jadi, dalam diet pegan terdapat makanan berunsur hewani dan nabati namun hal ini ada persentasenya.

Untuk makanan berunsur nabati seperti sayur dan buah-buahan lebih besar ketimbang unsur hewani sepeti daging, perbandingannya yakni 75 persen untuk sayur dan buah, sementara 25 persen untuk daging tanpa lemak.

[page-pagination]

Namun dalam diet pegan ada anjuran untuk tidak mengonsumsi susu dan makanan yang mengandung gluten, contohnya roti.

Bahkan, untuk jenis kacang-kacangan dan biji-bijian tidak terlalu diperhatikan atau boleh, namun hanya dikonsumsi seminimal mungkin. 

Ahli gizi sekaligus Ketua Indonesia Sport Nutritionist Association (ISNA) Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes menjelaskan, diet pegan cenderung mengarahkan agar mengonsumsi makanan berunsur nabati.

Hal ini, menurut dia, menyehatkan bagi penderita penyakit diabetes, hipertensi maupun penyakit pembuluh darah.

Namun, ia melihat bahwa titik kelemahan diet pegan ada pada tidak dianjurkannya jenis kacang-kacangan dan biji-bijian untuk dikonsumsi.

Sebab, 75 persen sayur dan buah menjadi prioritas utama dalam pola makan diet pegan. 

“Kelemahan diet pegan ini adalah justru pada pemillihan makanan nabati yang 75 persen itu sayur dan buah semua, justru biji-bijian dan kacang-kacangan tidak dianjurkan,” kata Rita saat dihubungi Poskota.co.id via aplikasi Zoom, Selasa (30/3/2021). 

Dia menjelaskan, bila memang biji-bijian dan kacang-kacangan tidak begitu dianjurkan untuk dikonsumsi dalam diet pegan, maka  kandungan lemak tidak jenuh dalam tubuh akan rendah.

“Nah, risikonya kalau biji-bijian dan kacang-kacangan tidak dianjurkan, maka konsumsi ini akan di rendah lemah tidak jenuhnya, jadi kalau hewani kan lemak jenuh ya, kita akan mendapat lemak tidak jenuh justru dari biji-bijian dan kacang-kacangan itu tadi, nah ini tidak akan didapat,” jelas penulis buku berjudul “101 Tips Berhasil Diet Rest Ala Rita Ramayulis” tersebut. 

Selain lemak tidak jenuh, zat fitokimia yang ada dalam kacang-kacangan dan bij-bijian yang dipentingkan juga untuk antioksidan tidak dapat diperoleh manfaatnya.

[page-pagination]

Mikronutrien seperti zat besi juga tak akan bisa didapat bila unsur kacang-kacangan atau biji-bijian ditiadakan dalam diet pegan tersebut. 

Kemudian, dalam diet pegan tidak dianjurkan untuk mengonsumsi susu.

Dari situ, Rita menilai, diet pegan memang hanya memberi porsi makanan berunsur hewani sebanyak 25 persen saja.

“Diet pegan ini juga tidak dianjurkan untuk mengonsumsi susu, jadi dia protein hewaninya memang cuma 25 persen dan itu pun tidak dianjurkan untuk susu, jadi lebih ke daging-dagingan,” ucap dia. 

Oleh sebab itu, risiko terbesar dalam melakukan diet pegan, menurut dia yakni mereka tidak memperoleh sumber kalsium yang baik karena susu yang merupakan sumber kalsium, tidak dianjurkan untuk dikonsumsi dalam diet pegan.

Selain susu, kalsium juga ada di jenis kacang-kacangan namun sayangnya, dalam diet pegan, jenis kacang-kacangan tidak begitu dianjurkan. 

“Jadi kalsium hanya didapat paling dari jenis ikan yang dimakan dengan tulangnya, itu pun kalau dimakan, karena tidak ada anjuran itu juga dan kemudian pada sayur-sayuran, nah kalau kalsium pada sayur-sayuran justru penyerapannya tidak sebaik dengan yang ada pada protein nabati, nah ini kelemahan-kelemahan pada diet pegan,” papar dia.

Efek Samping

Melihat bahwa ada beberapa jenis makanan yang tidak dianjurkan untuk dikonsumsi seperti susu, kacang-kacangan, biji-bijian bahkan makanan yang mengandung gluten seperti roti, maka Rita menjelaskan, beberapa efek jangka panjang yang dapat diderita oleh orang yang melakukan diet pegan. 

Menurut dia, mereka akan mengalami defisiensi (kekurangan) kalsium sebab  susu dan kacang-kacangan tak dianjurkan untuk dikonsumsi dalam diet pegan.

[page-pagination]

Hal ini juga bisa membuat tubuh mengalami gangguan kesehatan tulang, gangguan kontraksi otot serta pembuluh darah.

Lalu juga rendahnya kandungan lemak tak jenuh bisa berdampak pada ketidakseimbangan kadar dalam darah meski diet pegan menekankan pada sayur dan buah sekalipun. 

Selain itu, bisa saja orang yang melakukan diet pegan mengalami anemia atau kekurangan sel darah merah sebab rendahnya zat besi yang diserap oleh tubuh.

Lalu sedikit mengonsumsi makanan yang mengandung zinc efeknya bagi anak-anak bisa jadi gagal tumbuh sedangkan untuk orang dewasa terjadi kegagalan dalam pemulihan sel-sel tubuh.

Sementara dalam diet pegan, persentase mengonsumsi daging hanya 25 persen saja maka itu membuat kandungan lemak jenuh dalam tubuh cuma sedikit.

Sehingga hal itu sangat mungkin membuat keseimbangan kadar trigliserida darahnya terganggu dan bisa terkena penyakit dislipidemia. 

Rita mengatakan, tidak merekomendasikan diet pegan untuk diterapkan sebagai cara guna menurunkan berat badan.

Karena dala diet itu ada larangan terhadap konsumsi susu, kacang-kacangan, serta biji-bijian yang sebenarnya kaya akan zat gizi seperti protein, kalsium, zat besi, zin, lemak tak jenuh, dan beberapa mikronutrien lainnya.

"Jadi diet pegan berisiko untuk ketidakseimbangan zat gizi tertentu seperti kalsium, zat besi, zinc, yang semuanya itu akan mempengaruhi juga fungsi imunitas (kekebalan tubuh), jadi tidak disarankan. Artinya ini melanggar diet yang terkait dengan konsep gizi seimbang, jadi konsep gizi seimbang itu tidak ada larangan makanan apa pun semuanya harus dimakan untuk saling memberikan kontribusi untuk zat gizi, jadi kalau sampai menghilangkan kelompok biji-bijian, kelompok kacang-kacangan, ini jelas menyalahi aturan gizi seimbang,” pungkas dia. (cr02)


Editor: Fatah
    Bagikan:  

Berita Terkait